Komnas HAM Sudah Membuat Team Pribadi Untuk Mnyelidiki Kegaduhan 22 Mei

Komnas HAM Sudah Membuat Team Pribadi Untuk Mnyelidiki Kegaduhan 22 Mei – Direktur Imparsial Al Araf minta agar faksi yang rasakan kehilangan anggota keluarganya pada kegaduhan 21-22 Mei untuk memberikan laporan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Dapatkan Bonus Yang Melimpah Dengan Bergabung Bersama Kami, Silahkan Hubungi CS Kami Melalui Kontak Yang Tersedia Atau Silahkan Langsung Klik Disini Untuk Klaim Bonus Anda

Ia menilainya laporan ke Komnas HAM itu supaya dapat dikerjakan penelusuran serta tak dikira cuma untuk kabar bohong atau hoax.

“Mesti adukan ke Komnas HAM, agar benar infonya gak jadi hoax,” katanya terhadap wartawan selesai diskusi mengenai Menyibak Dalang Makar 22 Mei di Kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Rabu (29/5).

Info Bonus : 5% Bonus Setiap Deposit Seterusnya, 5 % Bonus Cashback, Bonus Rollingan 0,7%, Bonus Ajak Teman 5% Dan Deposit Hanya 50 Ribu

Lihat Kontak Kami Klik Disini :

Al Araf mengemukakan faksinya terus mengamati kapasitas Komnas HAM dalam mengerjakan pengusutan berkaitan rumor bab ramainya korban hilang karena momen kegaduhan itu.

Ia juga menggerakkan agar Komnas HAM selekasnya membuka berkaitan kematian serta korban hilang ketika perbuatan menampik pemilu nakal berbuntut kegaduhan itu.

“Saya menyerahkan ke Komnas HAM untuk pengusutan itu, sebab ia otoritas yang lebih mutlak, kalaupun kita kan gak miliki kemampuan tetapi terus monitor,” paparnya.

Sekarang Komnas HAM sudah membuat team pribadi untuk menyelidiki kegaduhan 22 Mei. Team ini sudah kerja mulai sejak kegaduhan berlangsung pada 21 Mei waktu lalu. Tapi team pribadi itu kerja di luar team pengusutan yang sudah dibuat faksi kepolisian.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengemukakan pembentukan team pribadi ini menurut mandat Undang-undang Nomer 39 Tahun 1999 mengenai Hak Asasi Manusia.

Team pribadi penjelajah realitas yang dibuat Komnas HAM selama ini menyimpan hasil kalau korban wafat karena peluru tajam dalam perbuatan 22 Mei menggapai 3-4 orang.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara bercerita kalau team mereka udah berkeliling-keliling menjumpai keluarga dari korban wafat serta korban luka-luka di RS Tarakan, RS Budi Kemuliaan, RS Polri, serta RS Cipto Mangunkusumo. Hasilnya, korban wafat korban karena peluru tajam sekitar 3-4 orang.

“Kami memang mendapatkan korban yang wafat sebab pemanfaatan peluru tajam, tiga hingga sampai empat orang,” kata Beka kala didapati di kantor Walhi, Jakarta Selatan, Selasa (28/5).

Agen Judi Bola